Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiagakan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi keluhan gangguan pernapasan warga di tengah kualitas udara yang masih buruk.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan dan Sumatera sudah tidak terdeteksi di atmosfer Jakarta. Pemprov DKI Jakarta juga akan melakukan water mist atau penyemprotan butiran air ke udara serta modifikasi cuaca untuk menurunkan polusi.

Sebelumnya, BMKG mendeteksi indikasi sebaran asap karhutla di sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat pada Jumat lalu. Berdasarkan pantauan citra satelit, asap terindikasi berada di lapisan atmosfer menengah hingga atas.

Meski asap sudah tidak terdeteksi di atmosfer Jakarta, karhutla masih belum padam di Kalimantan dan Sumatera. Bagaimana warga Jakarta dan sekitarnya perlu mengantisipasi dampaknya? Kita bahas bersama pengamat kebencanaan sekaligus Kepala BMKG periode 20172025, Dwikorita Karnawati.

#jakarta #karhutla #polusiudara #bmkg #dwikorita #kompastv

Baca Juga Kebakaran Rumput Kering di Tol Dalam Kota Cawang, Asap Ganggu Jarak Pandang | KOMPAS MALAM di https://www.kompas.tv/regional/696729/kebakaran-rumput-kering-di-tol-dalam-kota-cawang-asap-ganggu-jarak-pandang-kompas-malam

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/696730/full-eks-kepala-bmkg-soal-asap-karhutla-tak-terdeteksi-apakah-jakarta-sudah-aman-sapa-malam
Transkrip
00:04Intro
00:04Saudara pemerintah provinsi DKI Jakarta siagakan fasilitas kesehatan untuk bersiap tangani keluhan gangguan pernafasan warga.
00:13Langkah ini jadi antisipasi meski asap karhutlah dari Kalimantan dan Sumatera kini sudah tidak terdeteksi di atmosfer Jakarta.
00:22Walau asap karhutlah tak lagi terdeteksi, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno bilang kualitas udara masih buruk.
00:30Pemprov akan melakukan water mist atau menyemprotkan butiran air ke udara dan memodifikasi cuaca untuk menurunkan polusi di Jakarta.
00:41Kita berasap tapi memang tiblum pada masuk atmosfer ke bawah.
00:46Cuma apa yang harus kita lakukan?
00:47Pak Gubernur sudah memerintahkan minimal kita mengantisipasi semua rumah sakit puskesmas harus siap.
00:53Kalau memang terjadi ispa segala macam.
00:55Tapi semalam juga saya mendengar dari BMKG bahwa angin sudah tidak bertiup ke Jawa.
01:00Ini mengindikasikan akan menjadi penurunan.
01:02Cuma mungkin satu kita akan melakukan water mist lagi.
01:06Itu salah satu bukan satu-satunya cara.
01:08Minimal bisa meredam kabut polusi segala macam.
01:13Dan kita tetap melakukan modifikasi cuaca.
01:17Jumat lalu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG mendeteksi sebaran asap kebakaran hutan dan lahan memasuki atmosfer Jakarta.
01:27Pantauan citra satelit BMKG menunjukkan ada indikasi sebaran asap di sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat dengan indikasi
01:37keberadaannya pada lapisan menengah hingga atas.
01:48Berdasarkan hasil pemantauan citra satelit Mawari 9 pada Jumat 16 Oktober 2026,
01:57teridentifikasi adanya indikasi sebaran asap di sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, dan juga Jawa Barat.
02:04Kondisi ini menunjukkan bahwa asap telah terpantau di atmosfer wilayah Jakarta sejak pagi hari tadi.
02:11Namun perlu dipahami bahwa asap yang terdeteksi melalui citra satelit belum tentu telah mencapai permukaan tanah.
02:18Meski sudah tak terdeteksi di atmosfer Jakarta, tapi karhutlah masih belum padam di Kalimantan dan Sumatera.
02:25Lalu bagaimana warga di Jakarta dan sekitarnya perlu mengantisipasi dampaknya?
02:29Kita bahas bersama pengamat kebencanaan sekaligus Kepala BMKG periode 2017-2025, Prof. Dwi Korita Karnawati.
02:37Selamat malam Prof.
02:40Selamat malam Mas Radi, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
02:44Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
02:46Prof, meski asap karhutlah ini sudah tidak terdeteksi, kemarin kan sempat terdeteksi oleh BMKG di Jakarta.
02:51Sekarang meski tidak terdeteksi kan ada yang langkah-langkah juga harus diantisipasi.
02:55Dan bagaimana risikonya dalam beberapa waktu ke depan di tengah karhutlah yang belum juga padam dan juga jika kita melihat
03:02pertimbangan arah angin, Prof?
03:05Ya, betul sekali. Jadi arah angin atau dinamika atmosfer ini kan fluktuatif ya, berubah-ubah.
03:14Saat ini kebetulan anginnya menjauh dari wilayah Jawa, Jabodetabek ya.
03:21Namun, karena saat ini kita memasuki wilayah Indonesia sedang memasuki musim pancaroba atau peralian musim ya,
03:31dari musim kemarau menuju musim hujan ya,
03:35Jadi arah angin yang umumnya berasal dari timur tenggara menuju ke arah barat laut itu secara regional.
03:52Namun bisa saja karena ini fluktuasi peralian musim bisa berbalik lagi dari arah barat laut ke tenggara.
04:03Nah, jadi ke arah Jawa, ke arah pulau Jawa lagi bisa.
04:06Jadi masih dimungkinkan adanya dinamika arah angin dan kecepatan angin ataupun pola angin.
04:14Sehingga masih tetap perlu diwaspadai selama hotspot ataupun epicenter karhutlah masih belum dapat ditangani.
04:26Jadi apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah di sekitar wilayah yang akan terdampak atau termasuk di DKI itu sangat tepat,
04:36tetap harus waspada mengantisipasi, memonitor perkembangan informasi dinamika cuaca,
04:43terutama arah dan kecepatan angin, pola angin yang disampaikan BMKG,
04:49dan juga kualitas udara yang disampaikan oleh BMKG ataupun melalui berbagai aplikasi yang ada di masyarakat.
04:57Jadi demikian.
04:58Baik.
04:59Nah lalu Prof, sebesar apa kemungkinannya asap karhutlah ini akan kembali menyentuh atmosfer bawah
05:03seperti yang terjadi di Kuala Lumpur dan juga Singapura beberapa waktu lalu.
05:08Kita tahu dua negara tetangga ini juga diselimuti kabut asem, mampir di sana.
05:12Tapi jangan dijawab dulu ya Prof, kami akan bahas itu, akan tanyakan itu nanti sesaat lagi di Sapa Indonesia Malam.
05:16Tetap apa bersama kami.
05:26Masih berbincang bersama pengamat kebencanaan sekaligus sekolah BMKG Periode 2017-2025,
05:33Ibu Dwi Korita Karnawati.
05:35Prof, tadi saya bertanya sebelum jeda,
05:38sebesar apa kira-kira kemungkinannya asap karhutlah akan menyentuh atmosfer bawah?
05:42Tadi kan sudah dikatakan oleh Ibu Dwi Korita bahwa...
05:46Akan ada juga ya nanti saat ini atmosfer yang di atas,
05:51tapi ada juga nanti karhutlah ini akan menyentuh atmosfer bawah.
05:55Seperti yang terjadi di Kuala Lumpur dan Singapura.
05:57Kira-kira bagaimana ini, Prof?
06:09Bu Dwi Korita, sepertinya ada kendala komunikasi yang dialami.
06:15Dan tadi kami sempat berbincang soal bagaimana risiko dalam beberapa waktu ke depan,
06:21di tengah karhutlah yang belum juga padam.
06:24Apakah arah angin juga bisa menentukan asap karhutlah atau kabut asap ini bisa kembali ke wilayah Jabodetabek
06:31setelah sebelumnya BMKG mendeteksi hal itu pada Jumat pekan lalu?
06:36Ya, Bu Dwi Korita, dengar suara saya ya.
06:40Halo.
06:42Saya ulang pertanyaannya, Bu.
06:43Tadi ada sedikit kendala teknis.
06:45Seberapa besar kemungkinan asap karhutlah ini akan menyentuh atmosfer bawah, Bu?
06:50Seperti yang terjadi di Kuala Lumpur dan juga Singapura.
06:58Bu Dwi Korita, bisa dengar suara saya?
07:04Baik, kami coba kembali perbaiki sambungan komunikasi dengan pengamat kebencanaan
07:13sekaligus Kepala BMKG periode 2017-2025, Bu Dwi Korita Karnawati.
07:19Bu Dwi Korita, sudah mendengar suara saya ya?
07:22Saya mendengar.
07:23Baik, baik.
07:23Saya mendengar suara saya.
07:24Baik, sudah. Sudah terdengar jelas. Terima kasih.
07:27Saya ulangi pertanyaannya, Prof ya.
07:29Seberapa besar kemungkinannya asap karhutlah ini akan menyentuh atmosfer bawah?
07:32Seperti yang Anda jelaskan sebelumnya tadi.
07:34Seperti yang terjadi di Kuala Lumpur dan Singapura sebelumnya.
07:38Jadi apabila lapisan atmosfer yang ada di tengah dan atas
07:43itu mengalami dinamika kecepatan angin,
07:49artinya angin melambat,
07:51itu berarti pergerakan,
07:54apabila perlambatan itu tepat berada saat melintasi Jawa
07:59atau melintasi wilayah Jabodetabek,
08:02maka perlambatan kecepatan angin ini
08:05akan mengakibatkan gerak aliran vertikal
08:10dari lapisan atas ke lapisan tengah, ya, menengah,
08:15dan bisa berlanjut ke tembus ke lapisan di bawah tempat kita menghirup udara.
08:21Jadi itu sangat tergantung pada arah, ya,
08:26kalau mengarah ke Jawa atau Jabodetabek,
08:28dan juga kecepatan anginnya.
08:30Apabila kecepatan tetap tinggi,
08:32itu tidak, insya Allah tidak terjadi.
08:34Tapi apabila terjadi perlambatan,
08:37dikhawatirkan dapat terjadi hal itu.
08:39Maka disarankan tetap terus memontol,
08:43memonitor perkembangan dinamika informasi cuaca,
08:46kecepatan, dan arah angin yang disampaikan oleh BMKG,
08:50dan juga kualitas udara yang diakibatkan dari masuknya,
08:55itu tadi, partikel-partikel ke lapisan di bawah, ya,
08:59di permukaan. Demikian.
09:01Itu yang harus dipelajari juga oleh masyarakat,
09:03khususnya di Jakarta, ya,
09:04karena ibu kota ini sehari-hari juga sudah ada polusinya.
09:07Jadi, kalau memang ada tambahan polusi lain,
09:10karhutlah, itu yang harus diperhatikan.
09:13Pertanyaan lain soal ini, Bu Dwi Karita.
09:15Beberapa hari lalu, NASA sempat,
09:18peta satelit NASA,
09:19ini sempat melalui perform ice on the earth,
09:22menampilkan visualisasi sebaran konsentrasi gas karbon monoksida,
09:26atau CO di langit Indonesia,
09:28termasuk juga di wilayah ibu kota.
09:30Apakah itu kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan,
09:34Prof, yang disebutkan NASA tadi,
09:36dan bagaimana dampaknya untuk kita di ibu kota
09:40dan kesehatan warga di ibu kota, Prof?
09:43Ya, itu data yang otentik, ya.
09:45Oke.
09:46Itu data satelit, ya.
09:47Jadi, itu kita percaya, ya.
09:50Kebenaran ilmiahnya.
09:51Lalu, bagaimana efeknya?
09:53Itu kan?
09:55Nah, itu tadi.
09:57Kalau seandainya tadi,
10:00itu kan masih di lapisan menengah dan atas, ya.
10:04Ya, 18 ribu kaki, tempatnya.
10:05Iya, itu sangat tinggi, kan?
10:08Atas, ya.
10:08Betul.
10:09Jadi, tidak dekat permukaan.
10:10Namun, efeknya dikhawatirkan karena sangat tebal,
10:14itu dikhawatirkan bisa menghambat daya tembus radiasi matahari.
10:20Oke.
10:21Itu.
10:21Nah, kalau mataharinya sulit tembus yang memacu atau memicu evaporasi pembentukan awan-awan itu adalah sinar matahari, penguapan.
10:35Sehingga dikhawatirkan juga akan menghambat, semakin menghambat pembentukan awan-awan hujan yang saat ini sebagian wilayah Indonesia masih berada di
10:47musim kemarau dan sebagian lagi berada di musim transisi, musim kemarau ke musim hujan.
10:56Nah, kalau itu terhambat, kan akan mengurangi ini, memperlambat apa, curah hujan tadi.
11:02Ya, makin lama waktu kemarau-nya ya, Prof?
11:05Ya.
11:06Oke.
11:06Ya, pencucian udara menjadi terhambat juga.
11:09Dan itu kalau sampai turun ke bawah, ada yang tadi bocor ke bawah, maksudnya ya tadi melintas itu, kan bisa
11:16mengganggu partikelnya itu, mengganggu pernafasan ya.
11:20Sampai ada yang bergerak vertikal ke lapisan bawah, itu bisa mengganggu kesehatan, pernafasan ya, dan juga lingkungan demikian.
11:28Baik, tadi berarti sudah dikonfirmasi oleh Bu Dukurita bahwa data satelit itu betul dari NASA dan bukan hanya dampak kesehatan,
11:36tapi CO tadi atau karbon monoksida tadi bisa menghambat pembentukan awan-awan hujan yang artinya,
11:42musim kemarau kalau tidak diantisipasi karhutlanya dan karbon monoksidanya masih tetap ada, itu akan tambah panjang begitu.
11:48Ini menyulitkan pembentukan awan-awan hujan yang bisa sebenarnya memulihkan kita dari polusi dan kabut asap.
11:54Terima kasih informasi yang saya sangat berharga dari Ibu Dukurita Karnawati, pengamat kebencana sekaligus Kepala BMKG Periode 2017-2025.
12:03Selamat malam, sampai jumpa lagi Ibu.
12:04Selamat malam.
12:06Selamat malam.
12:08Saudara antrean warga untuk mengisi BBM di SPBU saat ini masih terjadi di wilayah Kabupaten Gianyar, Bali.

Dianjurkan