Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Sentil Gaji Wantimpres Rp76 Juta, Rocky Gerung: Saya Ceramah Satu Jam Dibayar Rp300 Juta!

Pengamat politik Rocky Gerung kembali melontarkan kritik pedas terkait efektivitas lembaga penasihat negara Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Universitas Negeri Medan, Sabtu, (24/10/2026).

Rocky mempertanyakan peran serta dampak nyata dari masukan Wantimpres terhadap kebijakan publik, jika dibandingkan dengan besaran alokasi anggaran dan gaji yang diterima para anggotanya. Guna menekankan poin kritiknya mengenai nilai efisiensi dan kapasitas intelektual, Rocky secara blak-blakan membandingkan gaji bulanan Wantimpres sebesar Rp76 juta dengan nilai honor yang ia dapatkan sebagai pembicara.

Ia menyebut bahwasanya tarif ceramah atau orasi ilmiah yang ia sampaikan dalam kurun waktu satu jam bisa mencapai Rp300 juta, sehingga ia menilai kualitas saran politik bagi kepala negara seharusnya jauh lebih terukur dan tidak sekadar formalitas struktur.

#rockygerung #wantimpres #universitasnegerimedan

Creative/Video Editor: Icha/Reiki
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Nah, saya mau tanya, Bung Roki itu dibayar. Gaji Bung Roki itu sekitar 67 juta rupiah per bulannya. Saya udah
00:07searching tadi.
00:08Nah, tapi kalau kata Bung Roki tadi, Bung Roki ingin mengkritisi Prabowo, saya mau tanya, sejauh ini pekerjaan dari Watimpres
00:16apa?
00:16Hanya omen-omen doang, tidak ada hasil. Itu yang pertama.
00:20Yang kedua, banyak masih sebetulnya saya paham, saya cinta Prabowo, saya cinta negara ini.
00:26Tujuan kita cuma satu, negara kita menjadi negara yang merdeka maju.
00:34Makanya tadi, seperti yang dikatakan Bung Roki, kita mahasiswa ayolah berpikir kritis.
00:39Tapi saya yang mau tanya, banyak keresahan dari mahasiswa.
00:42Universitas Negeri Medan nomor dua, perguruan tinggi negeri, penerima beasiswa KIP.
00:48Terbanyak se-Indonesia, kita harus syukuri itu.
00:51Tapi banyak dari kita nggak menyadari itu.
00:53Hanya bilang Prabowo, seperti ini Prabowo, karutlah.
00:57Di dunia, Indonesia nomor tujuh, hutan terbakar.
01:01Nomor tujuh loh, nomor tujuh.
01:03Amerika, Rusia, lebih banyak lagi.
01:05Tapi nggak ribut.
01:06Karena apa nggak termakan? Algoritma bajer.
01:09Kita sama-sama menyerang, kau bajer Prabowo.
01:12Terus sama-sama menyerang, kau bajer Anis.
01:14Tidak ada gunanya.
01:16Kita di sini mahasiswa, ayo berpikir kritis sama-sama.
01:21Bukan saling nyerang jadinya, gitu.
01:23Tapi saya setuju juga dengan mahasiswa yang di atas terkait KKNI ya.
01:27Jadi teman-teman kita jaga teman kita, semoga nggak diculik nanti.
01:31Oke.
01:33Karena memang pengalamannya, kalau dibilang, tadi diculik itu mahasiswa matematika,
01:38memalukan juga ya.
01:39Dibilang tadi 700, ya tidak ada data yang relevan.
01:43Saya sudah sering ya demo, sudah pernah juga demo.
01:47Ya, kalau dikatakan diculik, ya itu hanya, gimana ya?
01:51Itu hanya, karena dia sudah bersuara, biar dia kelihatan benar.
01:56Oke.
01:56Saya itu cilih, padahal kosong.
01:57Nah, saya mau tanya, kasus yang paling besar, Karhutlah.
02:01Oke, saya cinta Prabowo, tapi mana aksi nyatanya?
02:04Saya tidak bilang tidak ada aksi nyata, bukan.
02:06Tapi sejauh ini, makin banyak hutan yang kembali melahap.
02:10Saya mau minta, mana Pak Prabowo?
02:12Pak Prabowo, saya menonton Youtube Pak Bakom juga, dua hari yang lalu.
02:17Dikatakan Pak Prabowo itu cuma dua jam.
02:19Bahkan cuma sampai jam tujuh, sudah pulang.
02:21Kami berharap, ayo pejabat-pejabat, hirup asap Kalimantan, hirup.
02:26Biar jangan cuma warga itu yang menghirup.
02:29Gitu.
02:30Oke ya.
02:30Yang selanjutnya, sekali lagi, satu lagi, Pak.
02:33Yaitu, ini, masih pembunuh, Sambo.
02:38Udah terkena itu Cibinong.
02:40Tapi sejauh ini, banyak pejabat-pejabat takut.
02:43Takut untuk menangkap, takut untuk tegas.
02:46Yang hanya pengedar narkoba dibawa ke nusah kambangan.
02:49Tapi apa?
02:50Sambo, sudah jelas-jelas, ada korupsi.
02:53Kepala BGN, di mana dipenjarakan?
02:55Di tempat mewah.
02:56Tapi, kami tanyakan mana, berani enggak?
02:59Itu dari kami.
03:00Terima kasih.
03:01Baik.
03:02Oke, oke.
03:03Ini sekaligus saya tutup, saya minta izin karena saya mesti terbang.
03:09Soal kebakaran hutan.
03:11Anda ajak orang pergi ke Kalimantan.
03:14Anda sudah pernah mengalami keterlibatan untuk memadamkan api di dalam gambut?
03:20Sudah pernah?
03:22Belum pernah.
03:25Sebulan lalu, saya padamkan api di Siak.
03:30Sekaligus mengajarkan masyarakat di situ,
03:38sifat dari api yang dibakar.
03:41Ada kasus ibu-ibu bakar api.
03:43Bakar sampah, apinya menjalan 90 meter.
03:47Ibu itu enggak ngerti bahwa langgambut itu begitu ekologinya.
03:51Apinya enggak keluar di atas, dia masuk ke bawah.
03:54Lalu kepala ularnya itu lari 90 meter.
03:58Saya ikut madamin api di sini.
04:00Jadi saya tahu bagaimana tersiksanya orang.
04:04Baju tahan api, panasnya minta ampun.
04:06Saya harus membawa peranwir itu untuk madamin api.
04:10Hanya untuk menunjukkan caranya.
04:13Lalu orang buli saya, Rocky Gerung Pencitraan.
04:16Astaga.
04:18Saya hidupnya begitu.
04:20Di gunung.
04:22Masuk luar hutan.
04:23Naik turun gunung es.
04:25Jadi saya terlatih dalam soal itu.
04:28Saya beritahu pengetahuan saya.
04:32Bukan pamer.
04:35Dan sudah diputuskan.
04:37Ada tambahan peralatan.
04:39Ada tambahan pengendalian.
04:41Pola ini sudah petaunan.
04:44Kenapa ada perusahaan lingkungan?
04:47Karena amdalnya tidak lagi dipakai secara masuk akal.
04:51Di mana amdal itu ditarik.
04:54Dari hak masyarakat adat pindah pada negara.
04:57Di dalam omnibus law.
05:00Jadi sumber regulasi yang menyebabkan kebakaran lahan itu ada omnibus law.
05:08Nah omnibus law itu adalah
05:11produk dari
05:14Prabowo.
05:15Benar gak?
05:16Benar gak?
05:17Benar gak?
05:19Jadi produk dari
05:23saya itu
05:29dilaporkan ke 34 pol daerah seluruh Indonesia.
05:31Karena saya bilang
05:32omnibus law itu adalah hasil dari
05:38si Bajingan Tolol.
05:41Itu dasarnya.
05:44Omnibus itu produk dari
05:45Jokowi.
05:48Begitu cara lihatnya teman-teman.
05:51Dan itu dibatalkan oleh makamu konstitusi sekarang.
05:56Itu pentingnya
05:57Faktanya mesti ada di situ.
06:00Cara melihat soal.
06:01Jangan asal tuduh.
06:02Itu menunjukkan juga gak ada pengetahuan di situ.
06:07Soal gaji.
06:09Gaji saya.
06:11Mau tau gaji saya?
06:12Mau tau?
06:14Gaji saya
06:15Satu jam
06:16kasih cerama
06:18di perusahaan asing
06:2020 ribu dolar.
06:22Berapa tuh?
06:25300 juta.
06:29Satu jam doang.
06:31Begitu masuk undangan.
06:34Bisnis minta.
06:35Mahasiswa minta.
06:36Saya pilih mahasiswa yang nol.
06:43Tanya pada Hersu Beno.
06:45Yang daftar itu.
06:48Setahun dua tahun kemarin
06:49satu hari itu bisa 70 kali undangan.
06:52Kalau saya iyain
06:53setiap 5 menit
06:54saya ngumpulin 100 juta.
06:57Miliaran duit saya.
06:59Itu saya bilang
07:0070 juta itu cemen.
07:02Gak ada gunanya buat saya.
07:04Kenapa gak ada gunanya?
07:05Yang saya gak perlu.
07:06Mau beli apa?
07:07Buat apa?
07:08Yang saya tinggal di gunung.
07:11Kok bisa naik gunung?
07:13Buat apa kemewahan itu?
07:16Jadi Anda bayangkan
07:17kemewahan saya
07:18dengan kemewahan orang lain.
07:20Saya merasa mewah
07:21kalau saya masih bisa
07:22bolak-balik ke Himalaya.
07:23Saya masih bisa
07:24bolak-balik ke gunung-gunung es
07:25di Elbrus, Rusia.
07:27Itu kemewahan.
07:28Dan orang bilang itu
07:29cari perkara, mau mati.
07:30Di situ
07:31nilai orang
07:33udah 20 kali mau mati
07:34karena dikepung oleh es.
07:36jatuh ke jurang.
07:38Kalau saya pakai kemewahan
07:40ngapain gue naik gunung?
07:41Mending tiap hari gue
07:41ceram aja.

Dianjurkan