00:01Negosiasi AS-Iran belum ketuk palu, sedangkan ujung perang AS-Iran menjadi faktor penentu Trump dalam pemilu 3 November mendatang.
00:08Keputusan apa yang akan diambil Trump? Kita akan bahas bersama peneliti Indo-Pacific Strategic Intelligence, Aisyah Kusuma-Sumantri.
00:15Selamat malam, Mbak Aisyah.
00:17Selamat malam, Mas Gali. Salam dari Taipei.
00:20Oke, Mbak Aisyah, kita lihat bahwa negosiasi belum mencapai titik temu, sementara Trump sendiri 3 November akan melaksanakan pemilu.
00:28Apa kepentingan Trump terhadap perang AS-Iran jelang pemilu?
00:32Ya, pertama-tama kita harus membedakan kepentingan yang dimiliki oleh Donald Trump dan Partai Republikan,
00:40lalu kemudian dari politisi hawkish Amerika Serikat, serta kemudian kepentingan Kongres dan masyarakat.
00:45Karena di sini kita bisa melihat adanya kubu-kubu kepentingan yang berbeda dalam internal Amerika Serikat sendiri.
00:51Untuk Presiden Donald Trump dan kemudian jajaran pemerintahan di gedung putihnya,
00:55saat ini sebenarnya hal yang ingin dilakukan itu adalah berusaha untuk mempertahankan kekuasaan mayoritasnya di Kongres.
01:04Karena dengan adanya dukungan Kongres yang saat ini merupakan mayoritas republikan,
01:09mereka bisa sebenarnya untuk mendapatkan dukungan-dukungan terhadap kebijakan-kebijakan politik yang dilakukan oleh Donald Trump.
01:17Nah, permasalahannya kita lihat sekarang ya, Donald Trump ini dihadapi juga dengan tekanan-tekanan dari politisi hawkish Amerika
01:23yang berusaha untuk tetap melanjutkan perang ini terus berlangsung.
01:27Kenapa? Karena sebenarnya kita bisa melihat bahwa politisi-politisi ini memiliki dukungan-dukungan
01:34serta kaitan yang kuat dengan pengusaha-pengusaha Yahudi Amerika Serikat yang sangat pro dengan Zionis Israel.
01:39Lalu kemudian kita lihat juga dari sisi Kongres di sini, ada tekanan juga untuk kemudian bisa menghentikan perang
01:45karena masyarakat sudah mulai merasa gelisah dengan harga-harga yang semakin naik.
01:49Mulai dari BBM yang kita tahu terakhir itu harganya sekitar 4-5 dolar per galon,
01:55lalu kemudian kita lihat juga harga-harga pangan, kemungkinan besar kemudian harga supply chain juga kemudian semakin naik
02:00dan industri-nya ini menjadi terhambat.
02:03Ini menjadi salah satu konsern yang sebenarnya tidak terbantahkan kemudian di lapangan.
02:06Sehingga sekarang kita bisa melihat bahwa Donald Trump berusaha untuk mencari strategi yang win-win
02:12untuk kemudian bisa mengakomodir kepentingan dari aliansinya, dari Israel dan juga politisi-politisi hawkish Amerika Serikat
02:19lalu kemudian juga tetap mempertahankan popularitasnya.
02:22Karena kita tahu dari beberapa media, terutama dari Fox News dan kemudian Reuters yang mengadakan sejumlah survei ke masyarakat,
02:30sekarang popularitas Trump itu sekitar hanya 30%.
02:34Ada yang bilang bahwa ini 38%, ada yang bilang 33%, tetapi yang jelas Donald Trump ini telah mengalami kemudian
02:40rating yang paling rendah sepanjang sejarah Presiden Amerika Serikat.
02:44Jadi dia akan berusaha untuk tetap mempertahankan sebenarnya popularitasnya selama sebelum pemilunya berlangsung.
02:51Mempertahankan popularitasnya.
02:53Mbak Isha, beberapa waktu lalu ada beberapa delegasi negara yang juga melakukan pertemuan di Teheran, termasuk salah satunya Arab Saudi
03:01sempat bertemu dengan Iran di Teheran.
03:03Apakah ini salah satu dorongan dari AS tentunya untuk negosiasi damai ataupun dorongan untuk melakukan kesepakatan?
03:11Ya, bisa jadi.
03:12Karena selama ini sebenarnya sudah banyak yang beredar kabar bahwa Teheran dan Riyad ini akan melakukan normalisasi hubungan.
03:19Dan ini bukan sesuatu yang baru. Sebenarnya dari Teheran ini sudah mendorong terkait adanya normalisasi di bawah kerangka uhuah islamia
03:27atau persaudaraan selama musim.
03:29Dan ini cukup menarik karena kita lihat bahwa selama ini Arab Saudi cukup relaktan.
03:34Karena sebenarnya memang hubungan yang pahit di antara Arab Saudi dan kemudian Iran ini merupakan sesuatu yang sudah terjadi dalam
03:40jangka waktu yang cukup lama.
03:41Tetapi melihat kondisi yang sekarang semakin memanas apalagi kemudian adanya konflik dengan Asyarullah di perbatasan selatan,
03:48sebenarnya ada beberapa pertimbangan yang kemudian dimiliki oleh Arab Saudi.
03:52Di antaranya adalah pertama, Amerika Serikat sekarang supportnya ini semakin melemah.
03:56Sehingga Arab Saudi sendiri menyadari bahwa sekarang Middle East atau kemudian Asia Barat telah berkembang menjadi sebuah kawasan yang benar
04:03-benar baru.
04:04Dengan tatanan kekuatan yang juga baru.
04:06Di sini Arab Saudi tidak bisa mengandalkan kekuatan Amerika Serikat 100% lagi sebagai security garantor di kawasan tersebut.
04:12Yang kedua, sekarang kita lihat bahwa memang Iran dan kemudian Houthi atau Asyarullah ini merupakan dua buah intiti yang sama
04:22-sama tergabung di dalam axis of resistance.
04:25Nah menariknya, meskipun memang hubungan di antara keduanya ini bukan hubungan vertikal atau bukan hubungan komando,
04:30tetapi memang ada kedekatan-kedekatan tersendiri yang dimiliki oleh pemerintah di Tehran ya,
04:36khususnya dari Rahabar di Tehran dengan kemudian pemerintah yang saat ini,
04:40sorry, dengan kemudian Asyarullah yang saat ini menguasai Sana'a.
04:43Nah ini kan cukup menarik.
04:44Artinya gini, Baya Sya, ketika Arab Saudi dan Iran sama-sama terlibat dalam upaya diplomasi,
04:49tetapi serangan Houthi juga terus meningkat,
04:52apakah Iran ini masih mampu mengendalikan Houthi supaya tidak menyerang Arab Saudi?
04:57Mungkin kalimatnya bukan mengendalikan, Mas Gali.
05:00Jadi kita bisa melihat bahwa hubungannya tadi yang saya bilang,
05:02ini bukan hubungan vertikal.
05:03Jadi bukan hubungan di mana kemudian Iran memberikan perintah
05:06dan kemudian Asyarullah atau Houthi ini kemudian melakukannya.
05:09Ya tetapi lebih ke arah, dua-duanya ini merupakan aktor yang tergabung di dalam axis of resistance.
05:14Mereka to some extent memiliki hubungan yang kemudian dekat
05:18dan juga memiliki kepentingan yang sama-sama berjalan beriringan.
05:22Tetapi bukan berarti.
05:23Sebenarnya salah satu ini lebih di atas dari salah satu yang lainnya.
05:27Sehingga ketika Arab Saudi ini melakukan normalisasi dengan Tehran,
05:30tujuannya adalah bukan untuk meminta Tehran untuk mengontrol ya,
05:35apa namanya, Asyarullah untuk menghentikan serangan.
05:37Tetapi simply membuka jalur diplomasi,
05:39sehingga kemudian ada aktor yang bisa dipercinta oleh Asyarullah di sana
05:43untuk maju ke mejaan perundingan.
05:45Karena di sini Arab Saudi menyadari betul bahwa konfliknya tidak akan selesai di medan militer.
05:49Kenapa?
05:50Karena apabila ini diteruskan, saya kira sebenarnya yang diinginkan oleh Asyarullah
05:55adalah menarik konflik ini menjadi konflik yang berkepanjangan atau protracted war.
05:59Tujuannya apa?
06:00Untuk mengganggu vision 2030 yang dimiliki oleh Saudi.
06:03Dan itu merupakan sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan oleh Saudi.
06:06Baik, terima kasih Mbak Aisyah Kusuma Sumantri,
06:08peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence,
06:10telah bergabung bersama kami di Kompas Malam.
06:12Terima kasih Mbak Aisyah.
06:14Jangan senang hati Mas.