Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Konflik AS dan Iran belum mencapai titik temu. Trump sempat sesumbar soal akhir perang Iran.

Dalam kampanyenya, Trump menuding Iran sebagai pihak yang memulai perang dengan Washington dan menolak gencatan senjata yang disepakati kedua negara.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka menyebut, tindakan militer dan agresi yang dilakukan AS dan Israel di Timur Tengah mengancam keamanan energi global dan regional.

Perundingan kedua negara telah terhenti selama berbulan-bulan tanpa ada kesepakatan.

Pemilu Amerika Serikat yang akan dilakukan 3 November nanti, menjadi faktor utama dalam pembahasan mengenai konflik Iran dan AS.

Sikap Trump terhadap perang Iran dan AS akan menjadi penentu masa depan Trump di Amerika Serikat.

Negosiasi AS-Iran belum ketuk palu, sedangkan ujung perang AS-Iran menjadi faktor penentu Trump dalam pemilu 3 November mendatang.

Keputusan apa yang akan diambil Trump? Kita akan bahas bersama Peneliti Indo-Pacific Strategic Intelligence, Aisha Kusumasomantri.

Baca Juga [FULL] Analisis Pengamat soal Trump Segera Putuskan Sikap Terhadap Iran, Perang Lagi atau Damai? di https://www.kompas.tv/internasional/698126/full-analisis-pengamat-soal-trump-segera-putuskan-sikap-terhadap-iran-perang-lagi-atau-damai

#trump #iran #pemilu #amerika

_

Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/698362/full-analisis-peneliti-isi-soal-kepentingan-trump-dalam-perang-iran-jelang-pemilu-as-3-november
Transkrip
00:01Negosiasi AS-Iran belum ketuk palu, sedangkan ujung perang AS-Iran menjadi faktor penentu Trump dalam pemilu 3 November mendatang.
00:08Keputusan apa yang akan diambil Trump? Kita akan bahas bersama peneliti Indo-Pacific Strategic Intelligence, Aisyah Kusuma-Sumantri.
00:15Selamat malam, Mbak Aisyah.
00:17Selamat malam, Mas Gali. Salam dari Taipei.
00:20Oke, Mbak Aisyah, kita lihat bahwa negosiasi belum mencapai titik temu, sementara Trump sendiri 3 November akan melaksanakan pemilu.
00:28Apa kepentingan Trump terhadap perang AS-Iran jelang pemilu?
00:32Ya, pertama-tama kita harus membedakan kepentingan yang dimiliki oleh Donald Trump dan Partai Republikan,
00:40lalu kemudian dari politisi hawkish Amerika Serikat, serta kemudian kepentingan Kongres dan masyarakat.
00:45Karena di sini kita bisa melihat adanya kubu-kubu kepentingan yang berbeda dalam internal Amerika Serikat sendiri.
00:51Untuk Presiden Donald Trump dan kemudian jajaran pemerintahan di gedung putihnya,
00:55saat ini sebenarnya hal yang ingin dilakukan itu adalah berusaha untuk mempertahankan kekuasaan mayoritasnya di Kongres.
01:04Karena dengan adanya dukungan Kongres yang saat ini merupakan mayoritas republikan,
01:09mereka bisa sebenarnya untuk mendapatkan dukungan-dukungan terhadap kebijakan-kebijakan politik yang dilakukan oleh Donald Trump.
01:17Nah, permasalahannya kita lihat sekarang ya, Donald Trump ini dihadapi juga dengan tekanan-tekanan dari politisi hawkish Amerika
01:23yang berusaha untuk tetap melanjutkan perang ini terus berlangsung.
01:27Kenapa? Karena sebenarnya kita bisa melihat bahwa politisi-politisi ini memiliki dukungan-dukungan
01:34serta kaitan yang kuat dengan pengusaha-pengusaha Yahudi Amerika Serikat yang sangat pro dengan Zionis Israel.
01:39Lalu kemudian kita lihat juga dari sisi Kongres di sini, ada tekanan juga untuk kemudian bisa menghentikan perang
01:45karena masyarakat sudah mulai merasa gelisah dengan harga-harga yang semakin naik.
01:49Mulai dari BBM yang kita tahu terakhir itu harganya sekitar 4-5 dolar per galon,
01:55lalu kemudian kita lihat juga harga-harga pangan, kemungkinan besar kemudian harga supply chain juga kemudian semakin naik
02:00dan industri-nya ini menjadi terhambat.
02:03Ini menjadi salah satu konsern yang sebenarnya tidak terbantahkan kemudian di lapangan.
02:06Sehingga sekarang kita bisa melihat bahwa Donald Trump berusaha untuk mencari strategi yang win-win
02:12untuk kemudian bisa mengakomodir kepentingan dari aliansinya, dari Israel dan juga politisi-politisi hawkish Amerika Serikat
02:19lalu kemudian juga tetap mempertahankan popularitasnya.
02:22Karena kita tahu dari beberapa media, terutama dari Fox News dan kemudian Reuters yang mengadakan sejumlah survei ke masyarakat,
02:30sekarang popularitas Trump itu sekitar hanya 30%.
02:34Ada yang bilang bahwa ini 38%, ada yang bilang 33%, tetapi yang jelas Donald Trump ini telah mengalami kemudian
02:40rating yang paling rendah sepanjang sejarah Presiden Amerika Serikat.
02:44Jadi dia akan berusaha untuk tetap mempertahankan sebenarnya popularitasnya selama sebelum pemilunya berlangsung.
02:51Mempertahankan popularitasnya.
02:53Mbak Isha, beberapa waktu lalu ada beberapa delegasi negara yang juga melakukan pertemuan di Teheran, termasuk salah satunya Arab Saudi
03:01sempat bertemu dengan Iran di Teheran.
03:03Apakah ini salah satu dorongan dari AS tentunya untuk negosiasi damai ataupun dorongan untuk melakukan kesepakatan?
03:11Ya, bisa jadi.
03:12Karena selama ini sebenarnya sudah banyak yang beredar kabar bahwa Teheran dan Riyad ini akan melakukan normalisasi hubungan.
03:19Dan ini bukan sesuatu yang baru. Sebenarnya dari Teheran ini sudah mendorong terkait adanya normalisasi di bawah kerangka uhuah islamia
03:27atau persaudaraan selama musim.
03:29Dan ini cukup menarik karena kita lihat bahwa selama ini Arab Saudi cukup relaktan.
03:34Karena sebenarnya memang hubungan yang pahit di antara Arab Saudi dan kemudian Iran ini merupakan sesuatu yang sudah terjadi dalam
03:40jangka waktu yang cukup lama.
03:41Tetapi melihat kondisi yang sekarang semakin memanas apalagi kemudian adanya konflik dengan Asyarullah di perbatasan selatan,
03:48sebenarnya ada beberapa pertimbangan yang kemudian dimiliki oleh Arab Saudi.
03:52Di antaranya adalah pertama, Amerika Serikat sekarang supportnya ini semakin melemah.
03:56Sehingga Arab Saudi sendiri menyadari bahwa sekarang Middle East atau kemudian Asia Barat telah berkembang menjadi sebuah kawasan yang benar
04:03-benar baru.
04:04Dengan tatanan kekuatan yang juga baru.
04:06Di sini Arab Saudi tidak bisa mengandalkan kekuatan Amerika Serikat 100% lagi sebagai security garantor di kawasan tersebut.
04:12Yang kedua, sekarang kita lihat bahwa memang Iran dan kemudian Houthi atau Asyarullah ini merupakan dua buah intiti yang sama
04:22-sama tergabung di dalam axis of resistance.
04:25Nah menariknya, meskipun memang hubungan di antara keduanya ini bukan hubungan vertikal atau bukan hubungan komando,
04:30tetapi memang ada kedekatan-kedekatan tersendiri yang dimiliki oleh pemerintah di Tehran ya,
04:36khususnya dari Rahabar di Tehran dengan kemudian pemerintah yang saat ini,
04:40sorry, dengan kemudian Asyarullah yang saat ini menguasai Sana'a.
04:43Nah ini kan cukup menarik.
04:44Artinya gini, Baya Sya, ketika Arab Saudi dan Iran sama-sama terlibat dalam upaya diplomasi,
04:49tetapi serangan Houthi juga terus meningkat,
04:52apakah Iran ini masih mampu mengendalikan Houthi supaya tidak menyerang Arab Saudi?
04:57Mungkin kalimatnya bukan mengendalikan, Mas Gali.
05:00Jadi kita bisa melihat bahwa hubungannya tadi yang saya bilang,
05:02ini bukan hubungan vertikal.
05:03Jadi bukan hubungan di mana kemudian Iran memberikan perintah
05:06dan kemudian Asyarullah atau Houthi ini kemudian melakukannya.
05:09Ya tetapi lebih ke arah, dua-duanya ini merupakan aktor yang tergabung di dalam axis of resistance.
05:14Mereka to some extent memiliki hubungan yang kemudian dekat
05:18dan juga memiliki kepentingan yang sama-sama berjalan beriringan.
05:22Tetapi bukan berarti.
05:23Sebenarnya salah satu ini lebih di atas dari salah satu yang lainnya.
05:27Sehingga ketika Arab Saudi ini melakukan normalisasi dengan Tehran,
05:30tujuannya adalah bukan untuk meminta Tehran untuk mengontrol ya,
05:35apa namanya, Asyarullah untuk menghentikan serangan.
05:37Tetapi simply membuka jalur diplomasi,
05:39sehingga kemudian ada aktor yang bisa dipercinta oleh Asyarullah di sana
05:43untuk maju ke mejaan perundingan.
05:45Karena di sini Arab Saudi menyadari betul bahwa konfliknya tidak akan selesai di medan militer.
05:49Kenapa?
05:50Karena apabila ini diteruskan, saya kira sebenarnya yang diinginkan oleh Asyarullah
05:55adalah menarik konflik ini menjadi konflik yang berkepanjangan atau protracted war.
05:59Tujuannya apa?
06:00Untuk mengganggu vision 2030 yang dimiliki oleh Saudi.
06:03Dan itu merupakan sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan oleh Saudi.
06:06Baik, terima kasih Mbak Aisyah Kusuma Sumantri,
06:08peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence,
06:10telah bergabung bersama kami di Kompas Malam.
06:12Terima kasih Mbak Aisyah.
06:14Jangan senang hati Mas.

Dianjurkan