- 5 minggu yang lalu
- #jokowi
- #prabowo
- #adearmando
JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo tampak kompak saat perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus lalu.
Namun, kekompakan di ruang publik dinilai tak selalu berarti kesamaan kepentingan politik.
Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional, Selamat Ginting, menyebut masing-masing tokoh memiliki rencana politik menuju 2029.
Menurut Selamat, dalam politik, para tokoh bisa saja tampil bersama di hadapan publik, meski masing-masing tetap memiliki agenda politik sendiri.
"Prabowo punya rencana untuk 2029. Jokowi juga punya rencana 2029. Dan itu tidak selalu kartu itu harus dibuka sekarang. Tidak ada ruang hampa, masing-masing punya kartu yang nanti akan dikeluarkan," katanya.
Selamat kemudian mengaitkan situasi tersebut dengan isu yang menyangkut Gibran Rakabuming Raka dan Jokowi.
Ia menilai pesan yang muncul dapat dibaca sebagai permintaan agar posisi Gibran dan Jokowi tidak diganggu.
Selamat juga menyinggung adanya desakan dari sejumlah kelompok yang mengusung isu pemakzulan Gibran dan proses hukum terhadap Jokowi.
Menurut Selamat, kondisi Gibran yang masih menjabat sebagai wakil presiden justru membuat persoalan tersebut dinilai lebih sensitif dibandingkan posisi Jokowi yang sudah tidak menjabat.
Selamat kemudian menafsirkan pesan Jokowi soal kekuasaan sebagai kekhawatiran agar kekuasaan tidak digunakan untuk menghadapi orang-orang yang berada di pihaknya.
Selamat menduga kritik Jokowi terutama ditujukan kepada orang-orang di sekitar Prabowo yang memiliki akses terhadap kekuasaan.
Ia khawatir kedekatan dengan penguasa justru digunakan untuk menghadapi pihak yang memiliki pandangan berbeda.
Baca Juga Debat Ade Armando soal Petuah Jokowi, Pengamat sebut "Senjata Makan Tuan" | ROSI di https://www.kompas.tv/talkshow/688949/debat-ade-armando-soal-petuah-jokowi-pengamat-sebut-senjata-makan-tuan-rosi
Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/iUAlhRmHMEs?si=rgB1htAhQRICHoYF
#jokowi #prabowo #adearmando
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/688951/jokowi-dan-prabowo-terlihat-kompak-pengamat-sebut-punya-kartu-politik-2029-ini-maksudnya-rosi
Namun, kekompakan di ruang publik dinilai tak selalu berarti kesamaan kepentingan politik.
Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional, Selamat Ginting, menyebut masing-masing tokoh memiliki rencana politik menuju 2029.
Menurut Selamat, dalam politik, para tokoh bisa saja tampil bersama di hadapan publik, meski masing-masing tetap memiliki agenda politik sendiri.
"Prabowo punya rencana untuk 2029. Jokowi juga punya rencana 2029. Dan itu tidak selalu kartu itu harus dibuka sekarang. Tidak ada ruang hampa, masing-masing punya kartu yang nanti akan dikeluarkan," katanya.
Selamat kemudian mengaitkan situasi tersebut dengan isu yang menyangkut Gibran Rakabuming Raka dan Jokowi.
Ia menilai pesan yang muncul dapat dibaca sebagai permintaan agar posisi Gibran dan Jokowi tidak diganggu.
Selamat juga menyinggung adanya desakan dari sejumlah kelompok yang mengusung isu pemakzulan Gibran dan proses hukum terhadap Jokowi.
Menurut Selamat, kondisi Gibran yang masih menjabat sebagai wakil presiden justru membuat persoalan tersebut dinilai lebih sensitif dibandingkan posisi Jokowi yang sudah tidak menjabat.
Selamat kemudian menafsirkan pesan Jokowi soal kekuasaan sebagai kekhawatiran agar kekuasaan tidak digunakan untuk menghadapi orang-orang yang berada di pihaknya.
Selamat menduga kritik Jokowi terutama ditujukan kepada orang-orang di sekitar Prabowo yang memiliki akses terhadap kekuasaan.
Ia khawatir kedekatan dengan penguasa justru digunakan untuk menghadapi pihak yang memiliki pandangan berbeda.
Baca Juga Debat Ade Armando soal Petuah Jokowi, Pengamat sebut "Senjata Makan Tuan" | ROSI di https://www.kompas.tv/talkshow/688949/debat-ade-armando-soal-petuah-jokowi-pengamat-sebut-senjata-makan-tuan-rosi
Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/iUAlhRmHMEs?si=rgB1htAhQRICHoYF
#jokowi #prabowo #adearmando
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/688951/jokowi-dan-prabowo-terlihat-kompak-pengamat-sebut-punya-kartu-politik-2029-ini-maksudnya-rosi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Terima kasih Anda masih di Rosy. Kali ini sikatannya adalah Ruang Opini Sumber Informasi.
00:07Jadi bersama saya Rosyana Silalahi.
00:11Saya bersama pengat politik dan militer Universitas Nasional Doktor Selamat Ginting dan Ketua Pergerakan Indonesia untuk semua Ade Armando.
00:20Doktor Ade Armando.
00:21Doktor Ade Armando.
00:23Soalnya beliau dari UI. Kalau dari UI itu dokter itu masih harus terlalu banyak ingin jadi dokter di UI.
00:32Iya, kenapa terus?
00:33Takutnya kontroversi.
00:36Ini mau lari-lari ke situ juga boleh.
00:39Mau ngomongin ini kan Pak Bahlil.
00:40Enggak.
00:42Mau bilang Pak Bahlil sih gak berani.
00:44Bukan gak berani.
00:45Takut.
00:46Enggak.
00:47Ih, kekuasaan itu tidak boleh untuk membunuh.
00:50Iya.
00:50Jadi kita sedang berbicara soal apa yang dikatakan oleh Pak Jokowi.
00:54Kekuatan yang dipakai untuk menjatuhkan orang.
00:57Nah, tadi kalau kita melihat bahwa dari dua orang narasumber saya memiliki latar belakang komunikasi wartawan,
01:08sama-sama sebenarnya punya muatan yang sangat berarti.
01:13Apa yang dikatakan oleh Presiden ketujuh Pak Prabowo ini.
01:16Pak Bung Selamat Ginting mengatakan ini ditujukan untuk mengancam Pak Prabowo.
01:21Bung Adi mengatakan ini sebenarnya mewakili roso banyak orang yang berada di situasi saat ini.
01:29Saya mau tanya dulu langsung ke Bung Selamat Ginting.
01:32Sebenarnya kalau Pak Jokowi mengatakan ini dan ingin mempertahankan kroninya,
01:37mengancam Pak Prabowo, kenapa Pak Prabowo harus diancam?
01:42Kan kemarin kompak di 17 Agustus.
01:45Di tengahnya Pak Prabowo, sebelahnya Pak Mas Gibran sebagai wapres, lalu bapaknya.
01:52Jadi kenapa harus diancam Pak Prabowo?
01:54Ya ada, bisa satu suara, tapi beda kepentingan.
02:00Masing-masing di dalam politik itu bisa makan bersama, minum bersama, nonton bersama, kemudian nyanyi bersama.
02:10Tapi di dalam hatinya bergejolak hal-hal yang berbeda.
02:15Hatinya siapa?
02:16Hati insan politik.
02:18Seperti Prabowo dengan Jokowi.
02:21Prabowo punya rencana untuk 2029.
02:23Jokowi juga punya rencana untuk 2029.
02:27Dan itu tidak selalu kartu itu harus dibuka sekarang.
02:32Itu pesan.
02:33Ibaratnya tidur bersama tapi mimpinya beda.
02:36Ya betul.
02:37Jadi di dalam komunikasi politik itu tentu ada,
02:42tidak ada ruang hampa,
02:45masing-masing punya kartu yang nanti akan dikeluarkan.
02:49Ini kartunya sekarang menjelang dua tahun sudah mulai dikeluarkan.
02:53Ini kan pesan, tolong dong jaga anak gua gitu kan.
02:58Karena misalnya...
02:59Tolong dong jaga anak gua, pesan dari Pak Jokowi ke Pak Prabowo untuk jagain Mas Gibran.
03:03Ya, misalnya.
03:05Itu kan sampai sekarang forum Purnawirawan,
03:09ya May Jensu, Narko, dan lain-lain.
03:11Tetap isunya kan.
03:13Makjulkan Gibran, Adili Jokowi.
03:16Ini Prabowo tidak pernah kemudian menanggapi setuju atau tidak setuju.
03:23Ini juga kekhawatiran bagi Jokowi.
03:25Apalagi sekarang persoalan pendidikannya Gibran dipersoalkan.
03:31Sampai sekarang.
03:33Ini SMP-nya gimana?
03:35SMA-nya gimana?
03:36Nah ini lebih berbahaya daripada Jokowi.
03:39Kenapa?
03:39Karena dia sedang menjabat.
03:42Jokowi sedang tidak menjabat.
03:45Jadi itu kira-kira pesan juga.
03:47Jangan kamu punya kekuasaan,
03:50nanti menggebuki orang-orang saya gitu.
03:53Jadi bukan mewakili rosonya publik,
03:55bukan mewakili perasaan publik,
03:57supaya kekuasaan tidak dilakukan untuk membungka,
04:02menjatuhkan orang lain.
04:02Ini bukan suara publik,
04:04suara kepentingan keluarganya Jokowi.
04:07Oke.
04:08Saya berikan pada Anda, Bung Ade.
04:11Ya buat saya itu,
04:13kalau mukasarnya kan gak masuk akal argumen Anda.
04:16Kira-kira gini.
04:17Ini kita biasa-biasa aja nih ya.
04:18Ini buat masyarakat juga harus tahu,
04:20kalau kita mau diskusi,
04:22ya kalau mukasar cuma bilang,
04:24it doesn't make sense.
04:25Maksud saya gini,
04:28Pak Jokowi itu harusnya justru minta agar,
04:31kalau pakai logika Anda ya,
04:33Prabowo itu menghajar siapapun yang menyerang Gibran dong.
04:37Dia justru bilang,
04:38jangan.
04:39Jangan kekuasaan kamu,
04:41termasuk kekuasaan anaknya,
04:42Gibran itu.
04:43Jangan dipakai untuk melawan mereka-mereka yang menyerang Gibran.
04:49Nangkep gak logika?
04:51Enggak, enggak.
04:52Oke.
04:53Kak, gini.
04:54Kalau aja Jokowi itu adalah orang yang ingin agar,
04:57gunakanlah kekuasaan untuk mematikan lawan-lawanmu ya.
05:00Enggak mungkin lah ada.
05:02Seandainya dalam hatinya nih ya,
05:04dia tidak akan ngomong semacam itu,
05:06dia akan biarkan aja misalnya sampai,
05:09saya ulang tadi ya,
05:11sebetulnya orang-orang di lingkungan,
05:13di lingkarannya Pak Prabowo,
05:15itu adalah orang-orang yang gak suka,
05:17kalau bos mereka,
05:18yaitu Pak Prabowo dan mungkin juga Gibran,
05:21itu diganggu.
05:22Mereka bergerak begitu,
05:25bahkan sekedar orang yang ledek,
05:27Pak Prabowo itu salah ngomong,
05:29itu dibilang hati-hati lu ya.
05:32Gitu ya,
05:33misalnya itu semangatnya.
05:35Nah, jadi sebetulnya Jokowi senang dong,
05:37kalau Prabowo-nya begitu.
05:40Harusnya.
05:41Karena artinya,
05:43anak gue akan dilindungi oleh Prabowo.
05:44Nah, justru bukan itu poinnya dari Bung Selamat dong.
05:47Poinnya dari Bung Selamat adalah,
05:50pidato Pak Jokowi itu,
05:52justru ingin mengirim pesan pada Pak Prabowo,
05:55eh, lu jangan ngapain-ngapain anak gue,
05:58berikan,
05:59jangan dibatasi kekuasaannya,
06:01jangan sampai duduk lagi hanya bersama Menko,
06:06duduk secara konstitusi di sebelah presiden,
06:10berikan juga akses,
06:12juga tadi Pak Bung Selamat Ginting mengatakan,
06:15Budi Ari juga jangan dipidana.
06:17Gak gitu, Rosi.
06:19Nah, jawabnya makanya saya menekankan.
06:22Dia bilang, kamu nih,
06:23sebetulnya dia gak ngomong sama Prabowo sih.
06:25Saya duga ya.
06:26Saya duga dia ngomong sama...
06:27Itu yang harus Anda jawab dari penjelasannya Bung Selamat Ginting.
06:31Saya duga yang dia kritik terutama adalah,
06:34orang-orang di sekitar Pak Prabowo,
06:36yang sekarang punya power nih,
06:38merasa punya power dong,
06:39saya dekat presiden,
06:41saya orangnya presiden.
06:42Begitu ada orang yang bertentangan sama kami,
06:45kami akan hajar.
06:47Nah, itu jangan sampai tumbuh tuh perasaan itu.
06:50Oke.
06:50Oke.
06:51Nah, sekarang saya akan bilang,
06:52tapi lalu kenapa itu dia ucapkan?
06:55Ingat ya,
06:56ini dia ucapkan pada saat wawancara dengan Tempo.
07:01Ingat ya,
07:02ini Tempo adalah majalah yang luar biasa pedas.
07:06Dan selalu mengkritik Pak Jokowi,
07:09atau setiap pemerintahan lah.
07:12Ya, terutama Pak Jokowi,
07:13karena si wartawan-wartawan Tempo ini bilang,
07:15kami bikin 120 kali cover stories tentang Anda,
07:19dan tidak ada satu,
07:20dan semuanya,
07:22all of them,
07:22120,
07:24120-nya itu mengecam Anda.
07:26Terus kenapa?
07:27Nah, enggak, disitulah kemudian Pak Jokowi harus menjelaskan.
07:31Saya enggak apa-apa loh,
07:33dikritik semacam itu,
07:34kalau itu saya enggak punya masalah.
07:36Dan kemudian,
07:38dia sedang berusaha mengajarkan kepada publik,
07:40tentang arti penting demokrasi.
07:42Kalau Anda ikuti diskusinya ya.
07:44Iya, saya ikutin.
07:45Tapi saya juga punya perspektif yang lain.
07:50Tentu aja.
07:50Gini, maksud saya,
07:51Anda kan mengatakan,
07:52Anda punya hak sepenuhnya untuk anti-Jokowi juga.
07:55No, bukan.
07:55Ganti.
07:56Tapi maksudnya,
07:58bahwa Anda ingin mengatakan,
08:00wah hebat banget Pak Jokowi menerima Tempo yang selama ini mengkritik.
08:03Tempo juga sudah minta berkali-kali wawancara,
08:05tapi tidak pernah.
08:06Tetapi saat ini diterima,
08:07karena pasti Pak Jokowi juga memiliki goal supaya message dia sampai.
08:13Yang dipakai adalah majalah Tempo.
08:15Enggak apa-apa juga,
08:15itu bagus juga.
08:16Bagus.
08:16Karena seorang Jokowi tahu,
08:18ia adalah seorang marketing politik yang ulung.
08:21Tapi yang ingin saya katakan,
08:23jangan menjadikan wawancara itu seolah-olah
08:28bahwa Pak Jokowi kemudian bisa bebas lebih baik
08:38dari apa yang sekarang terjadi di pemerintahan ini.
08:40Itu yang saat ini ingin dikatakan oleh Bung Selamat Ginting.
08:45Ya Pak, Bung Selamat boleh ngomong begitu.
08:47Anda ngomong begitu,
08:47enggak apa-apa nih.
08:48Mahasiswa semua juga mengatakan,
08:50enggak, enggak lebih baik, gitu ya.
08:52Ya saya juga punya pendapat yang berbeda guys.
08:55Saya menganggap bahwa Jokowi itu adalah orang yang sangat percaya pada demokrasi.
09:00Dia sangat percaya pada demokrasi.
09:02Karena itulah kalimat tadi,
09:04kan ada tanyakan kalimat presisi itu tuh.
09:06Jangan gunakan kekuasaan Anda untuk melawan,
09:12menjatuhkan orang.
09:14Kan ada tanya,
09:15kenapa dia ngomong begitu?
09:16Karena betul-betul dia percaya,
09:18itu harusnya dimiliki oleh setiap pemimpin di Indonesia.
09:22Mau gubernur, mau wali kota,
09:23mau anak presiden,
09:25mau cucunya presiden.
09:27Menjawab pertanyaan tadi,
09:28Bung Selamat Ginting,
09:29ini bukan untuk
09:31pesan dikirimkan ke Presiden Prabowo
09:34untuk melindungi keluarganya,
09:36melindungi anaknya yang sedang jadi wakil presiden,
09:38mantunya yang jadi gubernur,
09:40enggak, bukan itu ya.
09:40Bukan.
09:41Tetapi,
09:42pesan pada Presiden Prabowo
09:43tentang sekelilingnya.
09:45Oke.
09:46Tentang sekelilingnya, Pak Selamat Ginting.
09:49Iya.
09:50Jadi,
09:51gimana pertanyaan ke saya?
09:52Jadi,
09:53ini bukan
09:54kepada Pak Prabowo
09:55atau mengirim pesan bersifat ancaman kan,
09:59bahwa,
09:59eh,
09:59lu jangan macam-macam sama anak gue,
10:02karena masih perlu saya gitu.
10:04Tapi,
10:05ini lebih kepada
10:06situasi saat ini,
10:07di mana
10:08sekeliling Pak Prabowo
10:09tidak bisa menerima kritik.
10:11Makanya,
10:12saya bilang tadi,
10:13ini kan bisa kepada
10:14personal Sang Presiden,
10:17bisa kepada
10:19lembaga yang lain,
10:21bisa kepada
10:21elit yang lain,
10:23termasuk elit penegak hukum.
10:24Kan seperti itu.
10:26Jadi,
10:26pesannya adalah,
10:28apakah si pemberi
10:30nasihat itu
10:33bersedia
10:34meletakkan dirinya
10:36menjadi objek
10:37dari nasihat itu sendiri juga?
10:40Artinya,
10:41Jokowi berani enggak
10:42menempatkan dirinya
10:45sebagai orang yang
10:46dinasehati juga.
10:47Kenapa?
10:48Karena orang yang
10:49pernah berkuasa,
10:51pastilah
10:52akan ditanyakan
10:54pada publik.
10:55Publik akan bertanya,
10:56eh,
10:57saat lu berkuasa
10:58gimana?
10:59Kira-kira kan seperti itu.
11:01Jadi,
11:02seorang penguasa itu
11:03atau mantan penguasa itu
11:05harus siap
11:06kalau publik
11:08menanyakan hal serupa.
11:09Bukannya lu juga
11:10kelakuannya begitu dulu.
11:15makanya seperti saya bilang,
11:17ini bukan ruang hampa.
11:20Demokrasi itu
11:21kan seperti
11:22Bung Ade bilang,
11:24fitnah kritik.
11:25Nah, sekarang siapa
11:26yang bisa
11:27memutuskan
11:28bahwa ini kritik
11:30atau fitnah?
11:31Kan bukan beliau.
11:33Enggak bisa dong
11:34beliau bilang juga
11:35ini fitnah.
11:37Kritik itu
11:38memang harus
11:40keras.
11:41artinya gini,
11:42ketika rakyat
11:43dilarang
11:46melakukan kritik keras,
11:48maka jawabannya juga,
11:50maka penguasa juga
11:52tidak boleh
11:53menggunakan
11:54instrumennya
11:55untuk
11:55membungkam
11:57pengkritik.
11:58sehingga
11:59sehingga
11:59etika demokrasi
12:00dua-duanya.
12:02Rakyat
12:03mengkritik
12:03penguasa,
12:04tapi itu tadi,
12:06dengan
12:07kebebasan yang
12:08bertanggung jawab,
12:09bukan fitnah.
12:11Lalu si penguasa
12:12juga harus
12:13melindungi
12:14rakyat
12:14dengan tidak
12:16menggunakan
12:17instrumen
12:17kekuasaan.
12:18singkat saja,
12:19pertanyaan saya
12:19segini sebelum
12:20kita break.
12:21Tapi Anda
12:22melihat apa yang
12:23dikatakan Pak Jokowi
12:23sebenarnya
12:26perlu gak sih
12:27untuk kita
12:27dengar,
12:29benar gak
12:30petuahnya
12:31Pak Jokowi ini?
12:32Begini ya.
12:33Benar apa gak?
12:35Ini dalam
12:36teori jurnalistik juga,
12:38nama membuat
12:38berita.
12:39Ketika orang
12:40punya nama,
12:42maka
12:42menjadi berita.
12:43bukan
12:44yang jadi
12:45pusat pemberitaan
12:47adalah bukan
12:48kepala
12:49atau
12:49kiai pesantrenya,
12:51karena gak punya nama.
12:52Tapi begitu
12:53Jokowi
12:53berbicara
12:55di hari
12:56maulid Nabi
12:57yang orang
12:58membayangkan
12:59tadinya,
13:00oh ini
13:01bicara
13:01keteladanan
13:02Nabi Muhammad.
13:03Loh tau-taunya
13:04bicara
13:05dengan
13:06budaya
13:06politik
13:07Jawa
13:08terkait
13:08dengan
13:09kekuasaan,
13:10maka orang
13:10juga lihat,
13:11lo bukannya
13:12bagian dari
13:13kekuasaan,
13:14karena jangan
13:15salahkan persepsi
13:16publik,
13:17kalau melihat
13:18Gibran itu
13:19hanya
13:20casing.
13:22Tapi ada
13:22Jokowi
13:23di situ,
13:24Jokowi
13:24tetap berada
13:25di dalam
13:25istana,
13:26gak salah dong
13:27persepsi
13:28politik
13:28seperti itu
13:29juga.
13:29Jadi maksudnya
13:30petuah ini
13:32sebenarnya
13:33jadi gak patut
13:35didengar,
13:35atau sesuatu
13:36yang sebenarnya
13:37penting untuk
13:38didengar?
13:38Oh ya patut
13:38didengar,
13:39jadi kita ingin
13:40lihat,
13:41ini pesan
13:42ini disampaikan
13:43kepada siapa?
13:44Ujungnya
13:45pasti
13:46kepada
13:47penguasa
13:48saat ini,
13:50pasti publik
13:51juga melihat
13:52bahwa eh
13:53belum dua tahun
13:54yang lalu,
13:55lo juga berada
13:56di kursi itu,
13:58lo juga
13:58gimana
13:59waktu itu?
14:00Jadi
14:00makanya saya bilang
14:01seperti orang Jawa
14:03barangkali
14:03menunjuk
14:04jarinya
14:05ke depan,
14:06tapi empat
14:07jarinya
14:07ke dalam.
14:09Eh lo juga
14:09harus introspeksi
14:11terhadap
14:11ucapanmu
14:12karena kau
14:13mahluk politik.
14:15Mengapa
14:15satu petuah
14:16yang baik
14:17mengingatkan
14:17tentang kekuasaan
14:19bisa ditafsirkan
14:20berbeda?
14:20Padahal
14:21petuah tentang
14:23hai kekuasaan
14:24ketika Anda
14:24berkuasa
14:25janganlah
14:26kemudian
14:26membunuh
14:26atau
14:28memperlakukan
14:29orang dengan
14:29semana-mana
14:30itu adalah
14:31petuah yang baik.
14:32Tetapi ketika
14:33ini datang
14:33dari Jokowi
14:34kenapa ini
14:35jadi sesuatu
14:35yang
14:37gak terlalu baik?
14:38selamat menikmati.
14:41selamat menikmati.